Riana Mahilda

6 Bulan Pertama sebagai UX Writer

Sun, 08 December 2019 20:33 PM

Akhirnya, sampai juga perjalanan aku selama 6 bulan sebagai UX Writer. Kalau kamu baru mendengar, mungkin ini saatnya untuk mengenal! Secara singkat, UX Writer memiliki makna sebagai penulis yang fokus kepada pengalaman pengguna dalam menggunakan suatu produk digital. Produknya beragam, mulai dari bentukan aplikasi mobile sampai website. Tujuan utamanya adalah membuat pengguna memahami dalam mengakses dan menggunakan produk.

Coba deh kamu bayangkan, kamu atau perusahaanmu punya aplikasi bagus sekali; design antar mukanya unik, fiturnya lengkap, teknologinya juga canggih, tapi pengguna gak tau bagaimana cara menggunakan aplikasinya. Sangat disayangkan kalau hal tersebut sampai terjadi, disitulah ux writer mengambil peran. Wah, bakal butuh satu postingan sendiri deh kalau membahas tentang ux writer. Di Indonesia, posisi ini bisa dikatakan baru trend di dunia start-up tech dan mulai menjamur karena kebutuhan tantangan dunia digital.

Pengalaman aku selama 6 bulan membuat aku belajar banyak (banget) hal, sebagian aku bagikan pada postingan ini.

7 Words Mantra

Menulis singkat, padat, dan jelas. Seberapa singkat? Ini bisa berbeda setiap produknya, tapi karena aku menulis di dalam aplikasi mobile dan website. Ada aturan main yang dijadikan referensi, seperti ‘7 Words Mantra’. Ini adalah tantangan yang paling lama aku bisa mengadaptasinya, paling struggling-lah gitu bahasanya. Butuh waktu sekitar 1-3 bulan untuk terbiasa menulis singkat hingga akhirnya bisa pakai feeling. Kamu bayangin deh, biasanya nulis blog dengan requirement dari brand diatas 600 kata sekarang harus dipangkas sampai hanya 7 kata atau bahkan lebih sedikit dan harus merangkum beberapa poin informasi yang harus disampaikan.

Think under User Shoe

Memposisikan diri sebagai pengguna atau customer dalam membuat keputusan. Sesuai namanya UX-user experience, maka kata-kata dibuat harus dari perspektif pengguna. Biasanya aku pribadi suka gak sadar kalau menulis itu terlalu product minded/tech perscpective. Misal nih aku mau buat e-mail rilis fitur untuk user dengan subject e-mail "Kini fitur notifikasi sudah bisa kamu akses!". Subject tersebut masih dalam kerangka perspektif produk, kita coba 'tweak' agar bergeser ke perspektif pengguna menjadi "Cek notifikasi sekarang jadi lebih gampaaaang". Sama makna tetapi beda point of view-nya.

Hal ini umumnya juga dipengaruhi oleh faktor psikologi, area bekerja dan latar belakang keilmuanmu. Poin ini penting kamu pahami, ketika kamu berhasil membuat tulisan dengan perspektif pengguna maka kamu akan membuat aplikasi tersebut berbicara lebih personal, tidak terasa seperti robot.

Feedback, Iterate, Repeat

Feedback dari pengguna adalah salah satu tolak ukur keberhasilan yang aku gunakan sebagai UX writer, misalnya salah satu pengguna merasa impressed dengan kata-kata di aplikasi kemudian mengupload screenshot pada media sosial atau memberikan feedback positif pada google play store saat mereka memberikan penilaian, itu menjadi bahan bakar banget untuk berusaha lebih baik lagi ‘serve them better’! Begitu pula dengan komentar negatif, biasanya aku telusuri sampai menemukan apa pain poin dari pengguna yang memiliki pengalaman tidak menyenangkan. Hasil dari feedback pengguna, diolah kembali sebagai bahan improvement kedepannya, diulangi sampai mendapatkan kenyamanan pengguna yang mendekati ideal. Jika feedback bisa dipakai sebagai landasan tolak ukur yang kualitatif, maka sebagai landasan tolak ukur kuantitatif kamu bisa menggunakan tools analytics heatmaps atau user flow dsb. Disesuaikan dengan kebutuhan data yang kamu butuhkan.

Pakai Bahasa yang Mudah Dimengerti

Kalau dalam copywriting bisa pakai bahasa sedikit nyeleneh untuk menarik calon pelanggan di suatu iklan, beda lagi dalam ux writer. Daripada kamu pakai bahasa keren, unik atau kekinian tapi pengguna gak mengerti, lebih baik pakai bahasa yang simple dan umum tapi pengguna paham. Pahami kembali konteks apa yang dimiliki seperti siapa target user yang menggunakan aplikasi kamu, user concern dan emotions, tujuan pembuatanya copy-nya, action atau outcome yang diharapkan, brand voice atau style tone yang ditentukan dan placement copy. Biasanya aku breakdown poin-poin tersebut dalam microcopy canvas.

Latihan Menulis

Hal yang masih tetap aku lakukan sampai sekarang adalah latihan menulis. Untuk membuat suatu copy di modal pop-up notifikasi, aku membutuhkan waktu sekitar ½ hari kerja. Dimulai dengan membuat microcopy canvas, kemudian membuat user journey, ngulik tulisannya itu sendiri, sampai prototyping dan siap dideliver ke temen-temen front-end juga UI/UX designer. Ngulik tulisannya itu sendiri bisa cepet bisa juga lama, paling cepet gak sampe 1 puteran lagu aku sudah selesai, tapi kalau lagi buntuuuu bangeeet bisa 1-2 jam sendiri. Jadi walaupun sudah mau masuk ke bulan 7 menjalani profesi ini, aku masih terus latihan menulis.

Kalau ditanya, bagaimana rasanya jadi ux writer? Seru banget. Aku bisa menulis dalam suatu aplikasi yang digunakan oleh banyak orang, membuat aplikasi berbicara like a human! Aku gak nyangka loh, bisa se-happy itu saat tau respon pengguna senang menggunakan aplikasinya dan jadi bahan bakar buat bikin ide-ide ke depannya. Jadi, kalau sekarang kamu tertarik dengan bidang ini atau ingin mengambil peran sebagai ux writer mungkin sudah saatnya kamu memulai. Go ahead! Semoga tulisanku kali ini bisa bermanfaat buat kamu ya!

Semangat! Jiayou~

Baca Juga

Komentar